Seni Rupa Kontemporer Indonesia

visi diatas langit

  • Blog Stats

    • 31,121 hits
  • Klik tertinggi

    • Tidak ada
  • April 2014
    S S R K J S M
    « Jan    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Kompetisi Poster/slogan International Peace and Art

Posted by apridinoto pada Januari 11, 2008

form klik aja ini dan silahkan download disini form regulasinya

Ditulis dalam Beranda | Leave a Comment »

Stuckisme/stuckism

Posted by apridinoto pada November 24, 2007

 

Stuckisme

billy-childish400-truth-lies-and-audiotape.jpg
Stuckisme (stuckism) merupakan sebuah gerakan kesenian yang terjadi di Inggris dimulai pada tahun 1999 dengan tokoh pendirinya Billy Childish dan Charles Tompson yang  tergabung dalam kelompok stuckist pertama dengan anggota 13 orang. Gerakan seni ini muncul sebagai reaksi dari dominasi wacana estetika dan pasar seni dari eksponen-eksponen Young British Artists (YBA). Dominasi mereka yang begitu besar di Inggris juga didukung oleh monopoli pasar oleh dealer seni Charles Saacthi, yang ditandai oleh tersingkirnya para seniman lain yang berada diluar form mereka.
Gerakan ini selain mempertentangkan persoalan dominasi YBA, monopoli Saacthi, juga menentang ideologi seni postmo dan conceptual art yang dianggap sudah terlalu establish di Inggris. Selain itu mereka juga menyoroti permainan-permainan kotor para kurator, serta skandal di Tate Britain. Aksi mereka banyak mandapat sorotan publik terutama ketika mereka membeberkan beberapa skandal yang terjadi di seni rupa kepada dewan kehormatan seni. Dan beberapa laporan ini membongkar kebusukan-kebusukan yang terjadi dalam institusi seni yang dilaporkan tersebut. Berita ini mendapatkan simpati publik sehingga para stuckist semakin diterima dimasyarakat.
Penamaan stuckism diambil begitu saja dari sebuah puisi Tracey Emin ketika mengomentari lukisan Billy Childish, pacarnya. Stuckism berasal dari kata “stuck” yang merupakan kata yang sering diulang oleh tracey emin dalam puisinya itu ” Your panting are stuck, …. Stuck! Stuck! Stuck!). Anggota yang bergabung dalam kelompok stuckisme  ini disebut stuckist.
Untuk menandai keberadaannya, para stuckist ini membuatan manifesto-manifesto yang intinya berisikan sikap mereka terhadap seni postmo dan conceptual art serta ketidakpercayaan mereka terhadap para kritikus seni. Manifesto pertama mereka menentang sikap anti proses dari seni postmo, pemakaian artisan,  dimana seniman tidak lagi terlibat secara fisik dalam pembuatan karya seni. Seorang seniman bagi mereka harus terlibat langsung dalam pembuatan karyanya. Mereka menyatakan bahwa “artist who don’t paint aren’t artists “, atau kurang lebih berarti, seniman tidak terlibat secara fisik dalam pembuatan karya seni bukanlah seniman. Pada manifesto kedua mereka menyatakan keinginan mereka untuk menggusur seni postmo dengan paham remodernisme sebagai periode pembaharuan nilai spiritual seni, sosial dan kebudayaan.

Remodernisme

Paham ini dibuat sebagai suatu bentuk protes terhadap kegagalan seni konseptual dan postmodern dalam membangun jembatan dengan publik. Pada perkembangannya Seni postmo jauh lebih bersifat ekslusif, elit dan jauh dari tataran sosial diluarnya. Seni postmo tidak menjanjikan apapun pada pemahaman berkesenian, karena hanya sekedar sebuah interupsi dari seni modern sehingga kondisinya sekarang dianggap sudah mapan dan tidak berkembang. Yang dilakukan oleh para penganut seni postmo tidak lebih dari sebuah repetisi yang membosankan dan memperlebar jarak dengan tataran sosio kultural masyarakat. Seni postmo hanya tinggal sebuah konvensi karena kegagalannya memberikan nilai-nilai dalam kehidupan manusia.
Remodernisme menerapkan ulang modernisme, memperbaiki visi dasarnya, disisi lain meninggalkan azas formalisme-nya. Remodernisme juga meliputi perbaikan akan nilai-nilai dalam sebuah karya seni, bahwa nilai – nilai kebentukan menjadi sangat penting menyangkut peranannya sebagai medium dan  kegunaannya sebagai bahasa komunikasi, ekspresi dari emosi dan pengalaman. Remodernisme juga meliputi perbaikan nilai-nilai spritual seni yang meliputi kajian kemanusiaan dan itegritas antara nilai-nilai holistik dengan seni.

Peran Stuckists dalam  seni kontemporer

Dalam bukunya, ” The stuckists : The First remodernist Art group” dinyatakan bahwa stuckists menerapkan prinsip modernisme, dan menggunakannya untuk berkesenian dengan mempertimbangkan nilai spiritual dan hubungannya dalam realitas sehari-hari. Semua anggota yang bergabung dalam stuckisme mempunyai komitmen secara alami dengan hal ini.
Pada prinsipnya, peran stuckists dalam seni kontemporer adalah usaha untuk menghidupkan kembali semangat itegritas personal sebagai dasar berkesenian. Menolak kompromi dengan trend dan pemakaian machiavellian middlemen (perantara/pialang) seni.
Stuckists menolak karya seni yang dihadirkan tanpa sebuah proses yang melibatkan seniman seperti halnya seni konseptual dan seni post modern. Stuckisme membawa sebuah nuansa baru dalam berkesenian untuk mengganti wacana seni konseptual dan seni postmodern yang dianggap telah mencapai titik mapan (establish).
Pemikiran stuckists  lebih banyak diikuti oleh seniman muda dan siswa seni, jauh berbeda dengan seni postmo yang bekerja pada wilayah seni yang ekslusif dan umumnya didominasi oleh seniman mapan. Hal ini  merupakan sebuah tanda  bahwa stuckisme dibuat untuk masa depan seni kontemporer.

Kegiatan

Setelah berdiri tahun 1999, perupa Ella Guru dari kelompok pendiri stuckists membuat website stuckists. Kelompok ini dimuat pertama kalinya di media dalam artikel ” Evening Standart”. Proses berdirinya stuckists ini ditandai dengan pameran pertama mereka berjudul “Stuck! Stuck Stuck!” di Joe Crompton’s Gallery 108 di Shoredicth. Pada tahun yang sama mereka berpameran “Resignation of Nicholas Serrota”. Tahun 2000 mereka mnyedot perhatian publik dengan melakukan demonstrasi di depan Tate Gallery untuk memprotes Turner Prize serta diiringi dengan pameran “The Real Turner Prize” pada waktu yang bersamaan dengan Turner Prize versi Tate Gallery. Kegiatan ini terus dilakukan selama tahun 2000- 2006 dan didalam demo ini mereka datang dengan berpakaian badut.
Pada Tahun 2002 sampai 2005 Charles Thompson mengelola pusat stuckists Internasional dan galerinya di Shoreditch London. Pada tahun 2003 galeri ini berpameran dengan judul ” A dead shark isn’t art“, dalam pameran ini dipamerkan ikan hiu yang dulunya pernah dipamerkan pertama kali oleh Eddy Saunders di tokonya di Shoreditch, JD Electrical Supplier tahun 1989 (2 tahun sebelum Damien Hirst dari Young British Artists memamerkan ikan hiunya). Dalam pameran ini dijelaskan bahwa Damien Hirst pernah datang dan melihat hiu tersebut dan menjiplaknya dengan demikian Saunderslah seniman penemunya.
Tahun 2002 mereka berdemo dengan membawa peti mayat bertulis ” The Dead of Conceptual Art” ke White Cube Gallery. Tahun 2003 mereka melaporkan Charles Saatchi ke komisi etik dagang, mengadukan monopoli Saatchi terhadap seni. Di tahun ini pula kelompok stuckisme fotografi didirikan oleh Lary Dunstan dan Andy Bullock. Diluar Britania Raya, diselenggarakan demo ” The Clown Trial of President Bush” dalam rangka protes terhadap perang Irak.
Tahun 2006 mereka membuat pameran “Go West” di galeri komersil West End Spectrum London. Pameran ini sebagai tanda masuknya stuckisme sebagai pemain utama dalam dunia seni. Pada tahun yang sama,  pameran pertama mereka di galeri nasional dengan judul “The Stuckist Punk Victorian” digelar. Pemeran ini diselenggarakan di Walker Art gallery dan Lady Lever Art Gallery yang tergabung dalam rangkaian Liverpool Biennial. Pameran ini menampilkan 250 lukisan dari 37 seniman dari Inggris dan seniman internasional dari jerman, Amerika Serikat, dan Australia. Pameran ini juga dibarengi dengan peluncuran buku ” The Stuckists Punk Victorian“. Pada saat yang sama digelar pula simposium internasional di Universitas John Moores Liverpool. Aktivitas ini juga diikuti oleh pameran pendampingnya di 68 hope gallery milik Universitas John Moores.

Pengembangan Internasional

Stuckists berkembang menjadi gerakan internasional dan ditahun 2006 telah bergabung 138 kelompok dari 34 negara. Selanjutnya di tahun 2007 telah tergabung sebanyak 163 kelompok dari 40 negara.
Para stuckist di seluruh dunia bergabung atas dasar kesamaan visi, dan kesadaran yang sama akan nilai-nilai  modernisme dan bahaya seni konseptual. Sampai tahun 2007 telah berdiri 4 Pusat Stuckists Internasional (International Stuckists Centre) sebagai tempat bagi para stuckist untuk saling berinteraksi dan bertukar pikiran. Gerakan ini bekerja secara swadaya, tanpa sponsor, galeri, dll, sehingga kemurnian pemikiran mereka tetap terjaga. Stuckisme merupakan gerakan yang bebas dan anggota yang bergabung masuk secara sukarela.
Setelah simposium pertamanya, stuckists international terus bertambah jumlahnya hingga sekarang. Hal ini beriringan pula dengan munculnya kembali pertanyaan akan arti seni dan seniman serta perenungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, personalitas, dan keterampilan didalam seni.
Pameran-pameran stuckists Internasional meliputi, Perancis, United Kingdom (Inggris/Britania Raya), Amerika Serikat, Australia,Yunani, Jerman dan Belgia. Pameran mulai di gelar sejak tahun 2000 hingga sekarang.

Indonesia

Pada dasarnya stuckisme belum disadari secara nyata keberadaannya disini, tetapi gejala-gejala kegelisahan yang terjadi di kalangan pelaku seninya hampir sama, tapi dalam bentuk dan nama yang berbeda. Seni rupa kontemporer Indonesia belum begitu diracuni oleh wacana seni konseptual dan postmo, tetapi lebih banyak dirusak oleh trend pasar dan praktek kuratorial yang tidak sehat. Disisi  lain, pemikiran akan pentingnya sebuah identitas personal dan pentingnya proses berkesenian tetap terjaga dikalangan seniman dan para siswa seni. Kondisi ini berbeda dengan seni kontemporer di Inggris yang sangat didominasi oleh seni postmodern.
Seni rupa kontemporer Indonesia mempunyai masalah yang lebih kompleks dan spesifik dibanding Inggris maupun Eropa. Jika seni Inggris dikuasai oleh wacana estetika dan pasar seni oleh seni konseptual Young British Artist, sedangkan seni Indonesia dirusak oleh institusi eksebitifnya (praktek kuratorial, galeri, machiavellian-Middlemen/pialang, dll). Selain itu infrastruktur seni yang ada di Indonesia belum selengkap yang ada di Eropa.
Untuk Makna Visual Art Magazine
Joko Apridinoto

Ditulis dalam Info Seni Rupa | 1 Comment »

Halo dunia!

Posted by apridinoto pada Oktober 31, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ditulis dalam Beranda | 2 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.